Kenapa Saya Ramai Sekali Kampanye Jokowi

Teman-teman saya di Facebook pasti tahu betul kalau saya pilih Jokowi. Mengingat link dan status yang saya share belakangan ini berkutat di seputar itu.

Mengenai latar belakang saya memilih Jokowi awalnya sederhana saja, saya kecewa dengan keputusan-keputusan Bapak 08. Begitu saya biasa menyebut Prabowo Subianto.

Sejak tahun 2012 saya simpatik dengan tokoh ini. Saat itu saya tidak tahu persis apa yang dia perbuat di masa lalu. Apapun itu saya pikir ya sudahlah. Setiap orang toh punya masa kelamnya masing-masing. Saya juga tidak terlalu tertarik untuk membuka masa lalu kelam orang lain. Kalau dia memang bersalah, sudah lebih dari 10 tahun sejak kejadian perkara, kenapa beliau masih belum diadili juga?

Melihat sosok patriotik dalam diri Bapak 08 dan melihat beliau satu-satunya tokoh berkemungkinan kecil untuk melakukan korupsi karena harta kekayaannya yang berlimpah, membuat saya simpatik. Kebetulan saya juga mengagumi Presiden Putin yang mampu memimpin Rusia dengan baik hingga saat ini. Saya sempat berpikir, ‘kalau Prabowo bisa menjadi Putin-nya Indonesia, mungkin baik juga.’

Dukungan saya terhadap Bapak 08 terus bergulir sampai pemilihan legislatif kemarin. Saya pilih Gerindra, partai yang didirikan Bapak 08. Semua teman-teman saya tahu kalau saya dukung Bapak 08. Bahkan ketika ayah teman saya yang kenal langsung dengan Bapak 08 dan berkata bahwa Jokowi akan jadi Presiden, saya lugas berkata: ‘Jokowi kayaknya belum siap, Om. Yang paling siap jadi Presiden sih cuma Prabowo. Pilihannya cuma dia. Yang lain (selain 08 & Jokowi) maling semua.”

Sedemikian besar harapan saya tambatkan pada sosok yang tidak saya ketahui masa lalunya ini. Harapan saya pada Bapak 08 hanya ada tiga:
1. Tertibkan FPI dan ormas berisi preman lainnya

2. Berantas korupsi dan adili semua koruptor setegas-tegasnya sampai semua orang jera untuk korupsi

3. Benahi penegakan hukum di Indonesia, hentikan sistem hukum yang hanya keras pada rakyat kecil dan bisa dibeli oleh orang berpunya

Saat itu saya tahu Prabowo mampu. Saya juga yakin hanya dia yang bisa melakukan ini. Maybe Indonesian deserve Prabowo Subianto as President.

Seiring waktu berlalu, sampailah pada saat Bapak 08 mengumumkan calon wakil presiden dan partai pendukungnya. Keluarlah nama Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden. Saya kecewa. Karena saya lihat dari keputusan-keputusan Hatta Rajasa, orang ini oportunis sekali. Orang ini adalah besan keluarga Cikeas, keluarga yang di mata saya adalah keluarga koruptor nomor wahid dan keluarga Cendana ‘wannabe’. Saya juga tidak suka pernyataan-pernyataannya di media massa. Tidak tampak seperti orang pintar meskipun lulusan ITB.

Lalu tak lama kemudian diumumkan juga partai koalisi yang bergabung dengan Bapak 08. Di dalamnya ada PPP dan PKS. Haduh.. Sejak saya melek politik jaman kuliah dulu, saya paling anti sama partai berbasis agama. Dulu di kampus banyak sekali orang-orang PKS melakukan rekruitmen di mushola kampus dan mesjid kampus. Menurut saya orang-orang seperti mereka itulah yang menodai agama. Ranah agama itu bukan di politik. Negara ini merdeka bukan hanya karena pejuang muslim, tapi juga para pejuang non muslim. Itu kenapa negara ini berazaskan Pancasila dan berslogan Bhineka Tunggal Ika. Sebab para pendiri negara ini sadar bahwa Indonesia ini negara yang majemuk, penduduknya bukan hanya muslim. Tapi sayangnya kenaifan dalam beragama dan berpolitik teman-teman mahasiswa dulu disalahgunakan oleh partai politik. Dulu saya hanya bisa mengangkat bahu dan melakukan yang saya suka saja, tidak turut campur urusan orang lain.

Hal ketiga yang membuat saya menarik dukungan saya pada Bapak 08 adalah berita yang mengatakan bahwa beliau meminta dukungan FPI, ormas yang paling sering bikin saya geram karena kemunafikannya. Saya berharap Prabowo meniadakan FPI, ini malah minta dukungan pada FPI.

Faktor ARB, tidak begitu menjadi soal bagi saya. Dia tidak beda dengan Hatta Rajasa yang oportunis.

Pada titik itu saya memutuskan untuk tidak mencampur suara saya dengan orang-orang yang mendukung Bapak 08. Saya menarik dukungan dan beralih memilih Jokowi, di mana Anies Baswedan dan orang-orang baik lainnya melabuhkan dukungannya.

Sebelum menarik dukungan, sempat terlintas dipikiran saya kalau Bapak 08 sengaja melakukan koalisi ini. Beliau tahu orang baik tidak akan berpihak padanya karena bayang-bayang ‘dosa’ beliau di masa lalu. Dan di pemerintahan jauh lebih banyak orang jahat dari pada orang baik. Dia tahu korupsi sudah mendarah daging dan menyebar luas di setiap sendi pemerintahan. Jadi kemungkinan dia untuk menang akan lebih besar kalau dia (pura-pura) berpihak pada koruptor ini untuk mencegah perlawanan seperti yang sekarang diterima Jokowi (sebelum kemudian menghabisi mereka saat mereka lengah). Akan lebih mudah bekerja sama dengan orang jahat yang sudah siap cari ‘perlindungan’ daripada mengumpulkan dukungan dari orang baik yang tidak suka tingkah lakunya di masa lalu. Bapak 08 bukan orang bodoh. Tapi kalau saya berpegang pada prasangka itu dan tetap mendukung Bapak 08, alangkah naifnya saya. Prasangka ini cuma mimpi di siang bolong. Maka saya mau lihat yang nyata bisa bekerja saja dan saya pilih Jokowi.

Saat memilih Jokowi, yang saya lihat hanya prestasi dan wataknya saja. Beliau berprestasi dan tampak bersih. Dalam kurun waktu dua puluh bulan, Jakarta mengalami perubahan yang cukup signifikan dibanding dengan perubahan yang dialami selama masa jabatan gubernur sebelumnya. Banyak orang juga merasakan manfaat dari program yang dibuatnya. Pendapatan pajak daerah juga meningkat karena sistem baru yang dibangunnya. Kalau ada segelintir orang, terutama tenaga medis yang berpendapat sumbang mengenai sistem dan hasil kerja Jokowi, itu manusiawi. Namanya juga sistem baru, masih perlu penyesuaian dan perbaikan. Yang penting masalah paling urgent (kebutuhan masyarakat miskin untuk dapat akses kesehatan yang layak) sudah dapat solusi. Jauh lebih progresif dibanding hasil kerja gubernur sebelumnya.

Alibi yang mengatakan Jokowi mau jadi Presiden itu karena keputusannya di Jakarta banyak terhambat keputusan di pemerintahan pusat, pun masuk akal. Saya gregetan pengen tampar bolak balik mentri perindustrian waktu dia tanda tangani persetujuan produksi mobil murah. Logikanya di mana? Itu keputusan berdasarkan pertimbangan apa? Dasar mentri geblek. Saya juga kesal ketika dengar Banten menolak untuk bekerjasama bangun waduk sebagai salah satu upaya pencegahan banjir di Ibu Kota.

Semakin hari saya baca program dan apa yang ingin Jokowi perjuangkan, semakin saya setuju dengan sosok ini. Dia betul-betul punya solusi terobosan untuk masalah-masalah di negara ini. Sejauh ini, semua keputusan dan pernyataan Jokowi di media massa belum ada yang tidak masuk akal. Inilah alasan utama yang saya suka dari Jokowi, semua masuk akal. Saya sering mikir, selama ini orang lain di pemerintahan ngapain aja? Hal simpel begini ngga kepikiran. Saya mau orang yang masuk akal begini ada di pemerintahan.

Waktu bergulir semakin mendekati 9 Juli. Berita yang berseliweran mengenai perpolitikan semakin marak. Black campaign pun mewarnai pilpres kali ini. Saya pun larut dan membela capres pilihan saya siang malam. Saya bicara dengan sebanyak mungkin orang di sekitar saya, menjelaskan dan meluruskan kampanye-kampanye gelap yang ditujukan ke Jokowi. Di setiap kesempatan saya selalu cerita soal Jokowi dan program-programnya.

Kemudian saya pun larut. Saya sedih dan marah melihat banyaknya kampanye hitam yang dilancarkan oleh simpatisan dan tim sukses pihak Prahara. Saya heran, kenapa ‘perlawanannya’ bisa semasif ini? Media-media baru bermunculan, pun artikel dari kompasiana bertebaran di timeline. Dari berjenis surat terbuka sampai tulisan yang katanya ‘investigasi tim independen’ yang gaya bahasanya jauh dari bahasa jurnalisme. Pernyataan-pernyataan politisi yang nyinyir dan tidak berdasar mengenai Jokowi disebar.

Saya pun ‘membalas’ serangan itu dengan mempos artikel yang saya kira berasal dari Tempo mengenai gosip perminyakan di Indonesia. Seorang teman menegur saya dan mengklarifikasi bahwa link itu sama dengan kompasiana. Maka saya minta maaf dan menyatakan bahwa link itu gosip meskipun jujur saja, isinya sangat meyakinkan.

Tapi saya tetap harus bertanya pada diri sendiri karena saya sampai alpa mempos link yang kebenarannya masih dipertanyakan. Saya sampai menjadi salah satu netizen tidak bertanggung jawab, yang biasanya saya maki-maki. I just did what they do. This is not right.

What happened to me?

Tempo hari saya pos status ini di facebook:
Selepas pilpres, undang-undang pers harus dikaji ulang dan perijinan untuk menjadi jurnalis harus diperketat untuk menyaring hanya orang-orang dengan integritas tinggi lah yang bisa menjadi jurnalis.

Jadi wartawan itu tidak boleh sembarangan menulis berita yang menggiring publik pada berita yang tidak benar sesuai dengan kepentingan pendiri atau pemodal media.

Ada kisi-kisi yang harus dipatuhi. Seperti menjaga batas privasi orang lain, dalam artian tidak menyebar alamat atau data pribadi tanpa izin pihak yang bersangkutan. Atau menuduh dan menyebar fitnah untuk kepentingan pihak tertentu. Juga harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Orang yang bisa melanggar kisi-kisi tadi atas nama uang, bukan jurnalis sejati, mencoreng citra baik jurnalisme dan mengkhianati cita-cita kebebasan pers. Juga sebaiknya pelaku media tidak terjun ke politik bila tidak ingin Indonesia menjadi seperti Italia saat ini.

Membaca status saya itu dan melihat keadaan sekarang dimana media bisa dengan mudah didirikan dan dibuat seenak udel pendiri dan pemodalnya, saya pikir orang-orang semacam inilah yang mengkhianati kebebasan pers. Mereka bisa dengan mudah menulis berita yang tidak benar.

Orang immoral semacam apa yang bisa berbuat ini?

Orang yang mau menujukan paradoks dan lubang dalam demokrasi dan kebebasan.

“Give people freedom, then they will shit on it”

“That’s how it works, you think you do good to people, then they will destroy what you did for them.”

“The difference between good guys and bad guys is, good guys have so many rules. Bad guys have no rules, they just do anything they want to do. No ethics, no rules. They just do.”

Saya menangis sesegukan melepas beban di pundak yang entah kenapa ada di sana.

Saya cinta negara ini. Mungkin sama halnya juga dengan Prabowo dan Jokowi. Mereka juga cinta NKRI. Mereka punya visi yang berbeda untuk Indonesia, itu jelas. Di tangan mereka akan ada amanat besar untuk memimpin Indonesia.

Saya menyerah dalam berusaha ‘menyelamatkan’ negara ini dari pemimpin fasis dengan kemampuan saya yang sebatas meluruskan berita buruk. Sisa upaya saya hanya datang ke TPS tanggal 9 Juli nanti dan tetap pilih Jokowi. Setelah itu mungkin saya bersiap diri untuk pergi dari negara ini kalau Prabowo jadi RI 1.

Kalau Prabowo terpilih jadi Presiden RI, mungkin Indonesia memang layak dapat seorang pemimpin seperti Prabowo. Kalau dia sampai menang, Bapak 08 mungkin benar, bahwa Indonesia butuh demokrasi termimpin. Dengan adanya black campaign yang sistematis terhadap Jokowi dan berhasil, beliau menunjukan kekurangan dari ideologi ini. Dan menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia (yang memilihnya menjadi Presiden) memang tidak siap menikmati demokrasi yang sekarang kita nikmati. Dan mungkin saja Prabowo akan melakukan yang saya angankan saat saya masih mendukung beliau. Mungkin. Saya tidak sabar melihat hasil pilpres dan hidup tenang kembali seperti sebelum masa kampanye ini dimulai.

30 Things You Will Totally Realise on Your 30

30. A person who constantly says “I hate drama” is the most dramatic person there is.

29. Silence can be the loudest answer.

28. Not everyone being nice to you is a nice person.

27. True love is when you love someone selflessly.

26. Your soulmate is the one who tears down the thickest wall of yours and embrace whatever exist behind it.

25. There are works you do for money and there are works you do for self-fulfillment. The later contributes more for your mental development and it’s good for you.

24. Pick carefully people you want to keep in your life. It won’t hurt to keep only selected people.

23. Always trust your hunch. It never lies.

22. Always spend the first hour and the last hour of your day with someone you care the most.

21. Money can’t buy happiness, but it could help you through bad things smoothly.

20. Having a kid is a choice. Not an achievement nor obligation.

19. Virgins are boring.

18. Sex has nothing to do with love.

17. Intimacy does, so choose a partner who can relate to you effortlessly in reciprocal way and have the same level of inteligence as you.

16. Being able to laugh at the same jokes is important between partners.

15. Some men are more loyal than dogs, emotionally.

14. Don’t reheat a tortilla sheet unless you want to make nachos out of it.

13. Your poo turn purple after you eat dragonfruit salad.

12. True friendship is true friendship. No matter what.

11. Being alone is gold. Being alone together is beyond diamond.

10. Geeks are always hot. Nerds even hotter.

9. Date a man who cooks but cook for him anyway, especially for breakfast.

8. Life is too short to feel insecure, if you get into this situation, tell yourself: “yes I’m not as good as them. So what?”

7. Never make any promise when your belly is full, never get mad when you are hungry.

6. Bad people exist. They might be around you.

5. When someone says “I don’t do X” they most likely do. They just say that to make you feel better about it. Which, you shouldn’t.

4. Ugly people can have an ugly personality. Fuck inner beauty.

3. Never lose faith in yourself, never betray yourself.

2. Runny yolk tastes sweet.

1. The most important person in your life is the one who’s with you at the moment.

Ron De Laron

Ron terjaga karena suara hentakan di dinding tempat dia bersandar. Hentakan-hentakan itu sedemikian keras membuat butiran pasir jatuh di dahinya. Pandangannya buram, tak ada cahaya sedikit pun. Ia diliputi gelap, dan suara-suara hentakan nan asing itu semakin mengganggu.

Ron sedang berusaha merentangkan kakinya saat ia menyadari ia berada di ruangan yang sangat sempit, aroma tanah lembab memenuhi ruangan tempat ia terduduk sejak terbangun tadi. Kian lama semakin menyesakkan, oksigen seakan menipis, kerongkongannya tercekat. Tak ingin teracuni karbondioksida dalam ruang sempit, Ron mencoba mendobrak dinding di hadapannya yang lama-lama terasa seperti kertas kalkir alot. Butuh tenaga ekstra sampai akhirnya kaki Ron berhasil merobek dinding itu dan menerjang keluar.

Tubuhnya terasa sangat berbeda. Tetapi belum selesai dia memikirkan mengapa tubuhnya terasa sangat berbeda, gerombolan makhluk bertubuh aneh mendorong Ron menuju lorong gelap beraroma mirip dengan ruang tempat ia terbangun tadi, namun kali ini bercampur aroma asam, mungkin berasal dari keringat atau lendir yang menempel pada makhluk-makhluk ini. Lendir yang dapat ia rasakan jelas juga melekat ditubuhnya. Ron ingin segera pulang ke rumahnya dan mandi, bersabun tiga kali dengan sabun beraroma cokelat favoritnya.

“Eughh..!” Ron bergumam, rasanya menjijikkan sekali. Ditengah kesibukan merasa jijik, Ron berusaha untuk memisahkan diri dari gerombolan makhluk ini. Ron berbalik arah dan melawan arus langkah makhluk-makhluk ini. Namun usahanya sia-sia. Makhluk ini terlalu banyak dan cepat, bertumpuk saling tindih dibawahnya. Ron bahkan tidak bisa menjejakkan kakinya ke tanah. Otot lengan dan kakinya mulai terasa lunglai. Ron pun menyerah. Sedetik setelah ia merasa tak berdaya lagi, secercah cahaya jatuh di wajah dan punggung para makhluk yang ada di hadapannya. Namun pandangannya masih terlalu buram untuk bisa mengidentifikasi makhluk apa mereka ini sebenarnya.

Ditengah rasa frustasinya, Ron membalikkan tubuhnya perlahan, kemudian cahaya yang berasal dari ujung lorong seutuhnya menghantam pandangan Ron. Menyakitkan, namun membuat daya pandangannya berangsur menajam.

Selagi Ron melindungi pandangannya dengan kedua lengan kecil berbulu halus dan jemari lima ruas lebih besar dari serat kapas.. Ron menyadari sesuatu.

Ini pasti mimpi.

Makhluk-makhluk tadi segera merentangkan sayap sesampainya di mulut lorong dan terbang menentang langit senja di hadapan mereka. Meninggalkan Ron yang masih belum memahami mengapa bentuk tubuhnya berubah menjadi serangga. Serangga yang menjadi musuhnya setiap awal musim hujan. Serangga yang meninggalkan banyak potongan sayap. Sayap-sayap yang luar biasa sulit disapu karena selalu berterbangan melawan arus kayuhan sapu. Serangga yang membuatnya mematikan lampu rumahnya supaya tidak didatangi.

Kini dia adalah salah satu makhluk itu. Makhluk yang biasa dia sebut laron. Di tubuhnya ada sayap. Sayap yang ia tahu akan segera meranggas setelah beberapa saat ia berterbangan di sekitar cahaya lampu terdekat.

Tubuh Ron terhuyung. Ada rasa pilu di dalam dadanya. Ron tak terima dirinya laron. Meski demikian, Ron mengajak tubuh barunya untuk berpikir sejenak, mencoba mencerap kenyataan yang baru saja disadarinya. Menggunakan ketiga pasang kakinya untuk pertama kali, menaiki gundukan tanah di bawah pohon raksasa.

Dunia ini terasa besar sekali dari bawah sini.

“Hhmmmhhhhhh..” Ron menghela nafas panjang. Ia raba seluruh tubuhnya dengan keenam kakinya. Tubuh beruas-ruas, bokong yang memanjang, sayap yang lebar dan berbulu halus, bau yang tidak sedap, leher yang tipis, kepala berbentuk segitiga, mata besar memenuhi wajah, moncong yang tidak mampu melafalkan kata-kata di benaknya. Sekuat apapun ia berusaha berbicara, yang keluar hanya suara berdecit halus, entah berapa desibel, yang pasti tak mungkin bisa didengar manusia.

Jadi saat ini dia sedang bereinkarnasi menjadi laron. Tak butuh waktu lama untuk menyadari hal ini. Dan, seperti halnya di kehidupan Ron terdahulu, kali ini ia pun ia merasa perlu menanyakan pertanyaan maha penting pada dirinya sendiri: “Apakah tujuan hidupnya?”

Ron tahu persis hidup laron tidak lama bila ia tak menemukan pasangan sebelum fajar menyingsing. Laron yang sudah memiliki sayap dan siap terbang seperti dirinya adalah laron yang sudah siap untuk bereproduksi. Laron seperti dirinya akan terbang menuju sumber cahaya terdekat untuk kemudian menari dengan laron betina yang ia suka. Ketika laron betina itu siap ia buahi, mereka berdua akan meranggaskan sayap bersama. Untuk kemudian berkopulasi dan menghabiskan waktu bersama sampai larut malam di lantai, di atas tanah, di manapun mereka suka. Ron akan menikmati proses membentuk koloni baru yang akan dilahirkan pasangannya. Menjadikan betina itu ratu dari koloni barunya kelak.

Proses bereproduksi ini sudah seperti tujuan hidup yang luhur bagi semua laron. Mereka terlahir untuk berkembang biak dan membangun koloninya sendiri. Yah, pada dasarnya, dorongan untuk bereproduksi ada dalam setiap makhluk hidup yang berkeriapan di muka bumi ini sih. Primal instinct. Sudah seperti protokol dasar, setiap makhluk sudah pasti tahu caranya berkembang biak dan memiliki dorongan kuat untuk melakukannya. Ini kenapa setiap makhluk yang mendekati usia siap dibuahi dan membuahi, sangat berhasrat untuk mendapatkan pasangan. Jarang ada makhluk yang memikirkan dan bertanya: “kenapa harus berkembang biak?” seperti Ron.

“Apakah memiliki koloni sendiri itu penting?” Tanya Ron pada dirinya sendiri.

Ron tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki pewaris DNA-nya. Ron tidak pernah berpikir bahwa dengan memiliki pewaris DNA sesosok Ron, si pewaris akan mampu mengubah dunia dan membuat dunia menjadi tempat lebih baik untuk ditinggali.

Dalam ensiklopedi ditulis, hidup laron akan sangat singkat bila tidak menemukan pasangan sebelum fajar. Dalam kata lain, Ron tak akan melihat matahari terbit pagi ini bila ia tetap melajang.

Bagi laron lain, mungkin ini hal yang sangat menakutkan. Namun bagi Ron, ini kabar gembira. Ron tidak merasa bangga menjadi laron. Jadi mengapa dia harus menyebabkan laron lain lahir dan merasakan hal yang sama dengannya?

Ron tidak perduli bila dirinya berakhir menjadi bahan rempeyek atau tergilas ban mobil, atau menjadi umpan untuk memancing ikan nila, atau rata dengan tanah di bawah sendal jepit seseorang. Karena artinya petualangan di tubuh selanjutnya, akan dimulai lebih cepat.

Ada senyum tak terlihat menyungging di moncongnya yang tak mampu tersenyum. Ron takjub dengan kemampuan berkontemplasinya yang semakin cemerlang.

Selepas berkontemplasi hatinya menjadi ringan. Membuatnya ingin segera terbang, menjajal sayap lebar di punggungnya untuk pertama kali. Ron pun terbang. Rasanya bebas sekali mengepakkan sayap seperti ini. Bermain dengan gravitasi dan angin. Dorongan kuat untuk mampir di sumber cahaya yang ia lalui, ditepisnya berkali-kali.

“Bercinta a la Laron akan seenak apa sih? Dalam memoriku tidak ditemukan informasi bahwa orgasme laron lebih lama dari orgasme babi. Jadi tak ada ruginya melewatkan kegiatan itu kali ini.” gumam Ron dalam hati.

Akan lebih baik ia terbang menjauh, menikmati lampu-lampu itu berkelipan dari tempat yang ia kehendaki. Menikmati gulungan angin yang meniupnya kesana kemari. Sambil berharap tak ada burung hantu yang melihatnya dan memakannya sebelum ia puas menikmati sayap barunya. Ternyata menjadi laron tak seburuk itu. Ternyata cukup menyenangkan, meski hanya untuk sesaat.

***

laron

Indonesia Setelah 2014

Saya cinta Indonesia. Saya mencintai setiap detail mengenai negeri ini. Semua orang di seluruh dunia mengetahui bahwa negeri ini kaya akan kekayaan alam, hasil bumi dan pemandangan eksotis tiada banding. Negeri ini pernah disebut jamrud katulistiwa karena keindahan alamnya. Tapi rasanya sebutan itu sudah memudar sejak dua atau tiga dekade lalu.

Dengan kekayaan alam dan hasil bumi yang Indonesia miliki sekarang dan 70 tahun kebelakang, setiap warga negara Indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri seharusnya sudah bisa memiliki fasilitas asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan minimal 1 milyar sejak usia 17 tahun dari pemerintah. Kita juga berhak mendapat asuransi kesehatan dengan plafon rawat inap kamar seharga Rp500.000/ malam untuk setiap WNI. Juga fasilitas kesehatan dengan pusat riset sekelas Swiss.

Kita berhak memiliki sistem transportasi sekelas MRT di Singapura, di setiap ibu kota provinsi. Dengan jalan raya dan yang mulus di seluruh pelosok Indonesia. Transportasi umum di setiap pelosok negeri ini pun semestinya bisa sebaik sistem transportasi kota-kota dan desa-desa di Belanda.

Setiap anak-anak terlantar dan fakir miskin yang menurut UUD 1945 akan dipelihara oleh negara, semestinya mendapat santunan untuk memenuhi biaya hidup sampai mereka bisa mandiri.

Dalam bidang pendidikan, kita semestinya sudah memiliki sistem pendidikan sekelas pendidikan di Jerman dan gratis bagi setiap WNI sampai level pendidikan menengah atas.

Itu adalah hak yang seharusnya bisa kita nikmati sejak jaman orde baru dulu, kalau kita kekeuh ingin menyebut Soeharto sebagai bapak pembangunan yang selalu menyebut pemerintahannya sebagai pemerintah yang taat UUD 1945.

Sekarang mari kita kembali ke kenyataan yang ada sekarang.

Tahun 2013 tinggal bersisa beberapa jam lagi saja. Saya baru saja selesai membaca artikel mengenai Jokowi Ahok yang akan mengadakan pesta malam pergantian tahun untuk warga Jakarta.

Berita mengenai pasangan ini tak pernah gagal membuat perasaan saya lega dan menumbuhkan harapan akan kehidupan bernegara yang lebih layak dan masuk akal.

Ya, masuk akal. Bertahun-tahun saya membaca berita tentang politik dan pemerintah, isinya selalu pernyataan-pernyataan retoris politis tidak masuk akal. Kadang saya heran dan bertanya-tanya apa isi kepala orang-orang ini. Mereka mengaku sekolah di perguruan tinggi bonafide. Bertitel sarjana atau doktor. Tapi logikanya seperti tidak jalan. Apa yang membuat mereka tampak bodoh seperti itu?

Jawabannya sesimpel ini: uang, iya uang.

Kehadiran duo Jokowi-Ahok di Jakarta seperti angin segar ditengah hawa panas sesak dan perasaan mual melihat orang di pemerintahan. Alasannya sederhana saja, mereka betul-betul bekerja dan pernyataan mereka masuk akal, pun keputusan mereka.

Saya senang dengan strategi Ahok yang mendokumentasikan setiap rapat di Youtube. Kita jadi tahu apa saja yang terjadi saat rapat. Kita jadi tahu kalau apa yang dikerjakan orang-orang dipemerintahan itu kebanyakan hanya nilep anggaran dan cari cara untuk terus nilep anggaran. Tugas mereka untuk memelihara fasilitas negara? Dilakukan alakadarnya saja. Betulkan jalan dengan bahan alakadarnya padahal di anggaran tertulis pakai bahan berharga mahal. Mata rantai kegiatan tilep-menilep anggaran ini panjang terbentang dari perusahaan (yang kadang bodong) penyedia cap agar tanda bukti pembelian terlihat sah, sampai tampuk pimpinan alias gubernur yang menyetujui berjalannya kegiatan ini.

Dengan Jokowi-Ahok, rantai ini diputus. Orang yang tidak kompeten dan terbukti tidak jujur, dirotasi (karena mereka tidak bisa pecat PNS). Jabatan strategis diraih karena kompetensi dan prestasi bukan karena nepotisme. Jokowi-Ahok juga transparan dalam mengelola anggaran. Ahok bahkan bersedia membuka anggaran pribadinya. Ini betul-betul angin segar, bukan?

Tapi sepertinya angin segar ini hanya akan terjadi di Jakarta. Atau bahkan akan terhenti sama sekali.

Karena manusia dalam diri kita butuh untuk percaya bahwa dunia ini indah. Bahwa semua orang itu baik. Ketika kenyataan menawarkan informasi yang berlawanan dengan apa yang ingin kita percaya. Kita cenderung mengeliminir kebenaran itu.

Tidak mengherankan kalau tayangan di televisi terus menerus bertemakan pembodohan dan pemupuk harapan bahwa esok akan jadi lebih baik. Kita menginginkan itu.

Pemerintah yang busuk, korup, dan menginjak-injak hak rakyat untuk tidak dicurangi.. Kita juga menginginkan itu.

Beberapa dari kita memang menentang dan menuntut perubahan. Perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Tapi sebagian besar dari kita lainnya memilih untuk membutakan mata dan menulikan telinga.

Kita memaki dan mengutuk perbuatan curang untuk sesaat. Tapi kemudian kembali diam dan sibuk dalam gelembung kehidupan masing-masing. Karena mengutuk ternyata tidak berpengaruh apa-apa. Karena ternyata yang kita kutuk ternyata anggota keluarga sendiri yang uangnya juga kita nikmati. Kita menutup diri dari kenyataan bahwa dalam keluarga kita ada mental kriminal KPK.

Lalu kita menenggelamkan diri di balik hiburan sampah. Tertawa atas canda yang tak lucu. Musik yang memperkosa seni.

Kita layak mendapatkan apa yang ada pada kita saat ini. Semua yang ada pada kita adalah buah dari apa yang sudah kita pikirkan, kerjakan dan ucapkan.

Indonesia layak mendapatkan pemerintahan yang korup. Kita mengelu-elukan orang yang kaya. Persetan uangnya datang dari mana. Kita mengelu-elukan calon presiden yang bermodalkan wajah karismatik dan pendidikan luar negeri, juga strategi PR yang matang. Persetan dengan rekam jejak kerja dan niat politis di belakangnya. Kita pikir orang itu cukup keren. Kita tidak terlalu perduli bagaimana dia nanti akan bekerja.

Kita juga layak mendapatkan wakil rakyat yang hobinya mencuri dan keputusan-keputusannya bodoh setengah mati. Juga yang pernyataannya sangat tidak masuk akal, menginjak-injak nalar sehat rakyat yang diwakilinya. Kenapa? Berapa orang dari kita yang tahu kita di wakili oleh siapa di parlemen? Sejauh mana kita menginvestigasi kelayakan calon wakil rakyat kita? Apa kita perduli?

Tidak

Kita layak mendapatkan apa yang kita dapatkan sekarang selama kita tidak berbuat apa-apa untuk mengubah mental dan pola pikir.

Sedemikian bodohnya kah kita sehingga sedemikian mudahnya tertipu tipuan yang jelas terlihat?

Kita berteriak teriak di sosial media, betapa kita inginkan perubahan? Have you ever talk to people in your closest circle about what you think? What they watch on tv? What they’re looking for in the internet?

Have you?

We got what we deserve, until we make a change on what we do. On what we think, on what we feel, about the world. But well, we’re too busy wondering reality around us, ain’t we? We are all trapped in our own bubbles. And we don’t want to get out. It’s comfortable inside.

Melarung Rindu

Tanah masih basah jejak hujan seharian. Udara masih lembab diselingi angin yang dinginnya menusuk tulang. Butiran gerimis menerpa wajah dan kacamataku, meninggalkan jejak air berpola polkadot. Ujung hidungku terasa kebas. Meski begitu, kukayuh terus sepeda berwarna hijau-putih dengan keranjang berwarna hitam ini menembus jalan Hanoman, berbelok ke Dewi Sita. Selintas kulirik langit di atas sana tampak lebih gelap dari sebelumnya. ‘Sebentar lagi pasti hujan’, gumamku dalam hati.

Kemudian sesuai dengan kekhawatiranku, butiran gerimis berubah wujud menjadi bulir hujan, tepat di depan Tutmak. Kacamataku basah kuyup nyaris kehilangan guna, tetapi tetap kupakai juga untuk melindungi mataku dari hantaman air hujan. Kaos kutung bergambar mangkok ayam, jaket denim dan scarf yang kukenakan sudah seperti kertas tisu lekat di meja karena tumpahan teh. Jangan tanya bagaimana rupa legging hitamku.

Meski demikian, kembali ke rumah bukan pilihan bagiku kali ini. Ada air hangat dan handuk kering menanti di tujuanku. Ada teh manis hangat yang dapat kuseduh di dapur dan roti yang saat ini mungkin sudah basah di tas kanvasku. Ada kaos dan sarung kering di tujuanku. Aku hanya perlu mengayuh sepedaku lebih cepat untuk segera sampai di tujuanku.

Bibirku mulai menggigil, aku yakin wajahku pun pucat pasi kedinginan. Ini kusadari ketika sampai di depan Museum Antonio Blanco. Kacamataku yang melorot berkali-kali membuatku melepasnya dan memasukkannya ke tas kanvasku. Beruntung jalanan lengang di kala hujan seperti ini. Memudahkanku menuntun sepeda saat jalan terlalu curam atau terlalu menanjak. Tak ada yang perlu kutentang saat yang ada padaku hanya jarak pandang seadanya tanpa kacamata dan air hujan deras melintasi mataku.

Selintas kulirik jam tanganku setelah menghapus butir air di kacanya dengan kaosku. Pandanganku buram. Hari pun sudah hampir usai. Aku harus sudah sampai sebelum gelap.

Kukerahkan segenap tenaga yang tersisa. Kuhiraukan badan yang mengigil dan derasnya hantaman air hujan di tubuhku.

Ada rasa lega ketika melintasi Kopi Desa, rasa itu menyebar rasa hangat dadaku. Aku ingin tahu nama reaksi kimiawi ini, akan kucari di google ketika sampai di tujuan. Rasa ini membantuku bertahan melawan dingin. Meski bibirku tak henti menggigil.

Setelah bersabar menuruni anak tangga sebelum jembatan, sambil menuntun sepeda dan menjaga keseimbangan, senyumku merekah di sela bibir yang gemetar. Kurang dari lima menit lagi aku sampai di tujuanku, gumamku dalam hati.

Sesampainya di depan pohon beringin, kulepas sepatu merahku dan menyimpannya di keranjang sepedaku. Kubiarkan kakiku bersentuhan dengan pasir, lumut dan tanah menuju gerbang tujuanku. Menarik sepeda di jalan menanjak sambil bertelanjang kaki seperti ini rupanya cukup membantu. Selain menyelamatkan sepatuku dari resiko robek, keputusan ini pun menyelamatkan tubuhku dari jatuh terjerembab di atas jalanan beton berlumut tebal dan resiko terperosok bersama sepeda yang kutarik.

Hujan semakin deras menari di punggungku saat aku menarik sepedaku. Rasanya tas kanvasku pun bertambah berat. Nasib roti di tasku adalah sesuatu yang aku khawatirkan sepanjang aku menarik sepeda menuju gerbang rumahmu.

Sesampainya di gerbang, kurantai sepedaku di salah satu pilar kayu gazebo. Lalu bergegas kuambil sepatu, dan berjalan cepat ke arah rumahmu.

Kubongkar isi tas di teras rumahmu. Semua basah kuyup. Plastik rotiku sedikit bocor dan ada bagian roti yang basah. Tapi sebagian besar masih kering dan layak untuk dimakan.

Kunyalakan lampu teras, kutanggalkan pakaianku. Kutinggalkan di teras, kemudian masuk kamarmu, langsung ke kamar mandi. Kusiapkan air panas di bak mandi.

Sambil menunggu, aku ambil handuk dari lemarimu, juga kaos kering dan sarung Bali favoritmu. Semua kusimpan di atas tempat tidurmu yang tertata rapi.

Setelah lima menit kunyalakan keran, air panas belum sampai memenuhi separuh bak. Tapi kuputuskan untuk merendam tubuhku di sana. Paling tidak, aku bisa menghangatkan jemari tangan dan kakiku yang mengeriput kedinginan.

Satu jam berlalu. Selesai mandi dan berpakaian, kutengok roti sourdoughku. Kubawa ke dapur dan mengirisnya selebar jempol. Kubuka juga kacang mete yang kubeli bersamaan dengan roti di Bali Buda. Kutuangkan kacang di mangkok alumunium milikmu, kuberi sejumput garam dan bubuk bawang putih, kuratakan dengan jemariku. Setelah membersihkan tanganku dengan tisu dapur, kuolesi roti dengan butter dan kutaburi gula pasir yang bungkusnya bergambar hello kitty milikmu. Setelah selesai, kutaruh roti dan kacang di oven, kupanggang selama lima menit, dan tambahan lima menit untuk kacang. Sementara menunggu kacang selesai dipanggang, kuseduh teh panas di gelas besar, dengan sedikit gula.

Beginilah makan malamku.

Kutata makananku di atas meja teras. Kusimpan kursi di sebelah kiri ke hadapan kursi yang akan kududuki, kursi dekat pintu. Kulipat kakiku yang berbalut sarung Bali favoritmu di depan dadaku. Jemariku memeluk gelas besar berisi teh manis hangat. Wangi tubuhmu sayup-sayup mampir di hidungku, berasal dari sarung dan kaosmu yang kupakai.

Aku tahu masih ada dua puluh tujuh hari lagi sampai akhirnya kamu kembali ke sini. Dan aku tidak bisa memohon pada waktu agar dia berlari lebih cepat, seperti halnya aku tidak bisa meminta hujan untuk berhenti di tengah perjalanku menuju ke sini.

Dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan meskipun kita sangat menginginkan hal itu terjadi. Terkadang, malah hidup yang memaksa kita untuk menunggu, untuk menjalani proses selangkah demi selangkah tanpa tahu apa yang menanti kita di ujung proses itu. Tapi justru itulah yang membuat hidup ini jadi lebih menarik. Ketika hidup menyisakan ruang untuk mempertanyakan sesuatu, agar kita membuat rencana cadangan untuk membantali diri ketika rencana atau harapan utama tidak terpenuhi.

Maka atas nama menikmati proses, wangi tubuhmu di kaos dan sarung ini, juga di atas seprai dan selimut yang akan kutiduri malam ini.. Cukup untuk mengobati rasa ingin memelukmu.

Ada sedikit harapan, hujan yang mengguyurku tadi ikut melarung rinduku kedalam tanah tempatku berlalu. Namun rasanya rindu ini masih terlalu muda untuk binasa. Belum cukup besar untuk menyesakkan dadaku.

Dalam hati aku berbisik.. Semoga kamu menikmati liburanmu di miliaran jarak panah sana. Sehingga hal pertama yang kulihat di wajahmu ketika kamu pulang nanti adalah senyum.

Ubud, 25 Desember 2013

[*This story is fiction, except for the parts that aren't.]