Ron De Laron

Ron terjaga karena suara hentakan di dinding tempat dia bersandar. Hentakan-hentakan itu sedemikian keras membuat butiran pasir jatuh di dahinya. Pandangannya buram, tak ada cahaya sedikit pun. Ia diliputi gelap, dan suara-suara hentakan nan asing itu semakin mengganggu.

Ron sedang berusaha merentangkan kakinya saat ia menyadari ia berada di ruangan yang sangat sempit, aroma tanah lembab memenuhi ruangan tempat ia terduduk sejak terbangun tadi. Kian lama semakin menyesakkan, oksigen seakan menipis, kerongkongannya tercekat. Tak ingin teracuni karbondioksida dalam ruang sempit, Ron mencoba mendobrak dinding di hadapannya yang lama-lama terasa seperti kertas kalkir alot. Butuh tenaga ekstra sampai akhirnya kaki Ron berhasil merobek dinding itu dan menerjang keluar.

Tubuhnya terasa sangat berbeda. Tetapi belum selesai dia memikirkan mengapa tubuhnya terasa sangat berbeda, gerombolan makhluk bertubuh aneh mendorong Ron menuju lorong gelap beraroma mirip dengan ruang tempat ia terbangun tadi, namun kali ini bercampur aroma asam, mungkin berasal dari keringat atau lendir yang menempel pada makhluk-makhluk ini. Lendir yang dapat ia rasakan jelas juga melekat ditubuhnya. Ron ingin segera pulang ke rumahnya dan mandi, bersabun tiga kali dengan sabun beraroma cokelat favoritnya.

“Eughh..!” Ron bergumam, rasanya menjijikkan sekali. Ditengah kesibukan merasa jijik, Ron berusaha untuk memisahkan diri dari gerombolan makhluk ini. Ron berbalik arah dan melawan arus langkah makhluk-makhluk ini. Namun usahanya sia-sia. Makhluk ini terlalu banyak dan cepat, bertumpuk saling tindih dibawahnya. Ron bahkan tidak bisa menjejakkan kakinya ke tanah. Otot lengan dan kakinya mulai terasa lunglai. Ron pun menyerah. Sedetik setelah ia merasa tak berdaya lagi, secercah cahaya jatuh di wajah dan punggung para makhluk yang ada di hadapannya. Namun pandangannya masih terlalu buram untuk bisa mengidentifikasi makhluk apa mereka ini sebenarnya.

Ditengah rasa frustasinya, Ron membalikkan tubuhnya perlahan, kemudian cahaya yang berasal dari ujung lorong seutuhnya menghantam pandangan Ron. Menyakitkan, namun membuat daya pandangannya berangsur menajam.

Selagi Ron melindungi pandangannya dengan kedua lengan kecil berbulu halus dan jemari lima ruas lebih besar dari serat kapas.. Ron menyadari sesuatu.

Ini pasti mimpi.

Makhluk-makhluk tadi segera merentangkan sayap sesampainya di mulut lorong dan terbang menentang langit senja di hadapan mereka. Meninggalkan Ron yang masih belum memahami mengapa bentuk tubuhnya berubah menjadi serangga. Serangga yang menjadi musuhnya setiap awal musim hujan. Serangga yang meninggalkan banyak potongan sayap. Sayap-sayap yang luar biasa sulit disapu karena selalu berterbangan melawan arus kayuhan sapu. Serangga yang membuatnya mematikan lampu rumahnya supaya tidak didatangi.

Kini dia adalah salah satu makhluk itu. Makhluk yang biasa dia sebut laron. Di tubuhnya ada sayap. Sayap yang ia tahu akan segera meranggas setelah beberapa saat ia berterbangan di sekitar cahaya lampu terdekat.

Tubuh Ron terhuyung. Ada rasa pilu di dalam dadanya. Ron tak terima dirinya laron. Meski demikian, Ron mengajak tubuh barunya untuk berpikir sejenak, mencoba mencerap kenyataan yang baru saja disadarinya. Menggunakan ketiga pasang kakinya untuk pertama kali, menaiki gundukan tanah di bawah pohon raksasa.

Dunia ini terasa besar sekali dari bawah sini.

“Hhmmmhhhhhh..” Ron menghela nafas panjang. Ia raba seluruh tubuhnya dengan keenam kakinya. Tubuh beruas-ruas, bokong yang memanjang, sayap yang lebar dan berbulu halus, bau yang tidak sedap, leher yang tipis, kepala berbentuk segitiga, mata besar memenuhi wajah, moncong yang tidak mampu melafalkan kata-kata di benaknya. Sekuat apapun ia berusaha berbicara, yang keluar hanya suara berdecit halus, entah berapa desibel, yang pasti tak mungkin bisa didengar manusia.

Jadi saat ini dia sedang bereinkarnasi menjadi laron. Tak butuh waktu lama untuk menyadari hal ini. Dan, seperti halnya di kehidupan Ron terdahulu, kali ini ia pun ia merasa perlu menanyakan pertanyaan maha penting pada dirinya sendiri: “Apakah tujuan hidupnya?”

Ron tahu persis hidup laron tidak lama bila ia tak menemukan pasangan sebelum fajar menyingsing. Laron yang sudah memiliki sayap dan siap terbang seperti dirinya adalah laron yang sudah siap untuk bereproduksi. Laron seperti dirinya akan terbang menuju sumber cahaya terdekat untuk kemudian menari dengan laron betina yang ia suka. Ketika laron betina itu siap ia buahi, mereka berdua akan meranggaskan sayap bersama. Untuk kemudian berkopulasi dan menghabiskan waktu bersama sampai larut malam di lantai, di atas tanah, di manapun mereka suka. Ron akan menikmati proses membentuk koloni baru yang akan dilahirkan pasangannya. Menjadikan betina itu ratu dari koloni barunya kelak.

Proses bereproduksi ini sudah seperti tujuan hidup yang luhur bagi semua laron. Mereka terlahir untuk berkembang biak dan membangun koloninya sendiri. Yah, pada dasarnya, dorongan untuk bereproduksi ada dalam setiap makhluk hidup yang berkeriapan di muka bumi ini sih. Primal instinct. Sudah seperti protokol dasar, setiap makhluk sudah pasti tahu caranya berkembang biak dan memiliki dorongan kuat untuk melakukannya. Ini kenapa setiap makhluk yang mendekati usia siap dibuahi dan membuahi, sangat berhasrat untuk mendapatkan pasangan. Jarang ada makhluk yang memikirkan dan bertanya: “kenapa harus berkembang biak?” seperti Ron.

“Apakah memiliki koloni sendiri itu penting?” Tanya Ron pada dirinya sendiri.

Ron tidak pernah memiliki keinginan untuk memiliki pewaris DNA-nya. Ron tidak pernah berpikir bahwa dengan memiliki pewaris DNA sesosok Ron, si pewaris akan mampu mengubah dunia dan membuat dunia menjadi tempat lebih baik untuk ditinggali.

Dalam ensiklopedi ditulis, hidup laron akan sangat singkat bila tidak menemukan pasangan sebelum fajar. Dalam kata lain, Ron tak akan melihat matahari terbit pagi ini bila ia tetap melajang.

Bagi laron lain, mungkin ini hal yang sangat menakutkan. Namun bagi Ron, ini kabar gembira. Ron tidak merasa bangga menjadi laron. Jadi mengapa dia harus menyebabkan laron lain lahir dan merasakan hal yang sama dengannya?

Ron tidak perduli bila dirinya berakhir menjadi bahan rempeyek atau tergilas ban mobil, atau menjadi umpan untuk memancing ikan nila, atau rata dengan tanah di bawah sendal jepit seseorang. Karena artinya petualangan di tubuh selanjutnya, akan dimulai lebih cepat.

Ada senyum tak terlihat menyungging di moncongnya yang tak mampu tersenyum. Ron takjub dengan kemampuan berkontemplasinya yang semakin cemerlang.

Selepas berkontemplasi hatinya menjadi ringan. Membuatnya ingin segera terbang, menjajal sayap lebar di punggungnya untuk pertama kali. Ron pun terbang. Rasanya bebas sekali mengepakkan sayap seperti ini. Bermain dengan gravitasi dan angin. Dorongan kuat untuk mampir di sumber cahaya yang ia lalui, ditepisnya berkali-kali.

“Bercinta a la Laron akan seenak apa sih? Dalam memoriku tidak ditemukan informasi bahwa orgasme laron lebih lama dari orgasme babi. Jadi tak ada ruginya melewatkan kegiatan itu kali ini.” gumam Ron dalam hati.

Akan lebih baik ia terbang menjauh, menikmati lampu-lampu itu berkelipan dari tempat yang ia kehendaki. Menikmati gulungan angin yang meniupnya kesana kemari. Sambil berharap tak ada burung hantu yang melihatnya dan memakannya sebelum ia puas menikmati sayap barunya. Ternyata menjadi laron tak seburuk itu. Ternyata cukup menyenangkan, meski hanya untuk sesaat.

***

laron

Melarung Rindu

Tanah masih basah jejak hujan seharian. Udara masih lembab diselingi angin yang dinginnya menusuk tulang. Butiran gerimis menerpa wajah dan kacamataku, meninggalkan jejak air berpola polkadot. Ujung hidungku terasa kebas. Meski begitu, kukayuh terus sepeda berwarna hijau-putih dengan keranjang berwarna hitam ini menembus jalan Hanoman, berbelok ke Dewi Sita. Selintas kulirik langit di atas sana tampak lebih gelap dari sebelumnya. ‘Sebentar lagi pasti hujan’, gumamku dalam hati.

Kemudian sesuai dengan kekhawatiranku, butiran gerimis berubah wujud menjadi bulir hujan, tepat di depan Tutmak. Kacamataku basah kuyup nyaris kehilangan guna, tetapi tetap kupakai juga untuk melindungi mataku dari hantaman air hujan. Kaos kutung bergambar mangkok ayam, jaket denim dan scarf yang kukenakan sudah seperti kertas tisu lekat di meja karena tumpahan teh. Jangan tanya bagaimana rupa legging hitamku.

Meski demikian, kembali ke rumah bukan pilihan bagiku kali ini. Ada air hangat dan handuk kering menanti di tujuanku. Ada teh manis hangat yang dapat kuseduh di dapur dan roti yang saat ini mungkin sudah basah di tas kanvasku. Ada kaos dan sarung kering di tujuanku. Aku hanya perlu mengayuh sepedaku lebih cepat untuk segera sampai di tujuanku.

Bibirku mulai menggigil, aku yakin wajahku pun pucat pasi kedinginan. Ini kusadari ketika sampai di depan Museum Antonio Blanco. Kacamataku yang melorot berkali-kali membuatku melepasnya dan memasukkannya ke tas kanvasku. Beruntung jalanan lengang di kala hujan seperti ini. Memudahkanku menuntun sepeda saat jalan terlalu curam atau terlalu menanjak. Tak ada yang perlu kutentang saat yang ada padaku hanya jarak pandang seadanya tanpa kacamata dan air hujan deras melintasi mataku.

Selintas kulirik jam tanganku setelah menghapus butir air di kacanya dengan kaosku. Pandanganku buram. Hari pun sudah hampir usai. Aku harus sudah sampai sebelum gelap.

Kukerahkan segenap tenaga yang tersisa. Kuhiraukan badan yang mengigil dan derasnya hantaman air hujan di tubuhku.

Ada rasa lega ketika melintasi Kopi Desa, rasa itu menyebar rasa hangat dadaku. Aku ingin tahu nama reaksi kimiawi ini, akan kucari di google ketika sampai di tujuan. Rasa ini membantuku bertahan melawan dingin. Meski bibirku tak henti menggigil.

Setelah bersabar menuruni anak tangga sebelum jembatan, sambil menuntun sepeda dan menjaga keseimbangan, senyumku merekah di sela bibir yang gemetar. Kurang dari lima menit lagi aku sampai di tujuanku, gumamku dalam hati.

Sesampainya di depan pohon beringin, kulepas sepatu merahku dan menyimpannya di keranjang sepedaku. Kubiarkan kakiku bersentuhan dengan pasir, lumut dan tanah menuju gerbang tujuanku. Menarik sepeda di jalan menanjak sambil bertelanjang kaki seperti ini rupanya cukup membantu. Selain menyelamatkan sepatuku dari resiko robek, keputusan ini pun menyelamatkan tubuhku dari jatuh terjerembab di atas jalanan beton berlumut tebal dan resiko terperosok bersama sepeda yang kutarik.

Hujan semakin deras menari di punggungku saat aku menarik sepedaku. Rasanya tas kanvasku pun bertambah berat. Nasib roti di tasku adalah sesuatu yang aku khawatirkan sepanjang aku menarik sepeda menuju gerbang rumahmu.

Sesampainya di gerbang, kurantai sepedaku di salah satu pilar kayu gazebo. Lalu bergegas kuambil sepatu, dan berjalan cepat ke arah rumahmu.

Kubongkar isi tas di teras rumahmu. Semua basah kuyup. Plastik rotiku sedikit bocor dan ada bagian roti yang basah. Tapi sebagian besar masih kering dan layak untuk dimakan.

Kunyalakan lampu teras, kutanggalkan pakaianku. Kutinggalkan di teras, kemudian masuk kamarmu, langsung ke kamar mandi. Kusiapkan air panas di bak mandi.

Sambil menunggu, aku ambil handuk dari lemarimu, juga kaos kering dan sarung Bali favoritmu. Semua kusimpan di atas tempat tidurmu yang tertata rapi.

Setelah lima menit kunyalakan keran, air panas belum sampai memenuhi separuh bak. Tapi kuputuskan untuk merendam tubuhku di sana. Paling tidak, aku bisa menghangatkan jemari tangan dan kakiku yang mengeriput kedinginan.

Satu jam berlalu. Selesai mandi dan berpakaian, kutengok roti sourdoughku. Kubawa ke dapur dan mengirisnya selebar jempol. Kubuka juga kacang mete yang kubeli bersamaan dengan roti di Bali Buda. Kutuangkan kacang di mangkok alumunium milikmu, kuberi sejumput garam dan bubuk bawang putih, kuratakan dengan jemariku. Setelah membersihkan tanganku dengan tisu dapur, kuolesi roti dengan butter dan kutaburi gula pasir yang bungkusnya bergambar hello kitty milikmu. Setelah selesai, kutaruh roti dan kacang di oven, kupanggang selama lima menit, dan tambahan lima menit untuk kacang. Sementara menunggu kacang selesai dipanggang, kuseduh teh panas di gelas besar, dengan sedikit gula.

Beginilah makan malamku.

Kutata makananku di atas meja teras. Kusimpan kursi di sebelah kiri ke hadapan kursi yang akan kududuki, kursi dekat pintu. Kulipat kakiku yang berbalut sarung Bali favoritmu di depan dadaku. Jemariku memeluk gelas besar berisi teh manis hangat. Wangi tubuhmu sayup-sayup mampir di hidungku, berasal dari sarung dan kaosmu yang kupakai.

Aku tahu masih ada dua puluh tujuh hari lagi sampai akhirnya kamu kembali ke sini. Dan aku tidak bisa memohon pada waktu agar dia berlari lebih cepat, seperti halnya aku tidak bisa meminta hujan untuk berhenti di tengah perjalanku menuju ke sini.

Dalam hidup, ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan meskipun kita sangat menginginkan hal itu terjadi. Terkadang, malah hidup yang memaksa kita untuk menunggu, untuk menjalani proses selangkah demi selangkah tanpa tahu apa yang menanti kita di ujung proses itu. Tapi justru itulah yang membuat hidup ini jadi lebih menarik. Ketika hidup menyisakan ruang untuk mempertanyakan sesuatu, agar kita membuat rencana cadangan untuk membantali diri ketika rencana atau harapan utama tidak terpenuhi.

Maka atas nama menikmati proses, wangi tubuhmu di kaos dan sarung ini, juga di atas seprai dan selimut yang akan kutiduri malam ini.. Cukup untuk mengobati rasa ingin memelukmu.

Ada sedikit harapan, hujan yang mengguyurku tadi ikut melarung rinduku kedalam tanah tempatku berlalu. Namun rasanya rindu ini masih terlalu muda untuk binasa. Belum cukup besar untuk menyesakkan dadaku.

Dalam hati aku berbisik.. Semoga kamu menikmati liburanmu di miliaran jarak panah sana. Sehingga hal pertama yang kulihat di wajahmu ketika kamu pulang nanti adalah senyum.

Ubud, 25 Desember 2013

[*This story is fiction, except for the parts that aren't.]

What Mister Spock Has Taught Me

So here comes the time where my mentor is asking me to write about physical quirk as a workshop task.

Honestly, I feel uncomfortable writing about this. But heck, I have to do it anyway, so I take it as a challenge.

Before I jump into the story, let me tell you about the reason why I feel uncomfortable writing about physical quirk: I think it’s impolite to talk about it. I was raised in a family that never allowed me to talk about one’s physical flaws. Despite the fact that I can precisely notice everyone’s physical quirks: asymmetry in their face, stain or hole in their teeth, scars on their hands or on their legs, everywhere. I just do not talk about it.

But I still have to finish this task anyway, right?

Hmm.. Okay, let’s talk about my favourite character on Star Trek then. It’s Mister Spock. He has a significant role in the franchise. Being portrayed at the first time by Leonard Nimoy in the original Star Trek series. But I prefer the younger version of Spock which portrayed by Zachary Quinto in the Star Trek film (2009).

Mister Spock is a mixed human-Vulcan. His dad is a Vulcan and his mother is human. Unlike any other human, he was born with pointy shaped ears and pointy shaped eyebrows. His haircut is also unusual, it’s a mushroom-shaped hairstyle, his haircut never changed in ages. It’s legendary.

His physical appearance doesn’t look appealing to me. But he has this irresistible awesomeness any smart women from earth can’t help themselves from falling for him: Mister Spock has an unquestionable morality and he doesn’t lie.

Yes, he might sound weird, harsh, and bitter at times. But he always says what’s true. He’s not that type of guy who gonna say anything to comfort you from bitter truth. He has this desirable integrity, he only does what’s right even though it might mean he has to die. Comparing to pure blooded men from earth? I have never meet anyone possessing this kind of integrity, so far.

One other thing you will notice about Spock is, he is very much logical and selfless. He’s not only saying what’s right. He’s also doing what’s right. He is a man of his words, literally. This traits he possesses is beyond his physical quirks. That is what matter the most in a man, his integrity and his morality. Anyhow, physical quirks is a matter of perspective. It’s a quirk because it doesn’t match our version of perfection and vise versa.

See, all I’m gonna say is, we are all do have physical quirk. I have many scars on my legs and hands. I didn’t like it back in the days, but now I see it as life’s medals of adventures, it proves that I experienced things. However no one on earth possessing a perfect physical appearance anyway. We’ll get old eventually. In the end, what’s really matter is our attitude and values we are holding onto.

Who, or what, are you falling in love with?

After so many years observing people (and myself!) in the complicated game of love, I can say this: often times, you don’t fall in love with a person. You fall in love with something else.

Most often, people fall in love with their own imagination of the perfect man/woman. You meet somebody, you barely know him/her, and then you start imposing your own ideals of a soulmate onto the person. Problem begins when the illusion starts to shatter, and you start to see ‘the real him/her’. And tragically, you accuse the person of ‘having changed’ – although it was your own eyes which finally opened.

Often times, people fall in love not with a person, but a “way out”. You are feeling lonely, you just don’t want to be alone and miserable, and you see this person as a ‘solution’. Then, you are falling in love with the solution to your problem, not with a person.

Some people fall in love with “agenda”. You have made plans for your life: when to find a partner, when to get married, when to have children, etc. And then you see this person as the fulfilment of your life’s “Outlook calendar”. Again, you are falling in love with your life schedule, not with a person.

Some others fall in love with “therapy”. You were broken inside, you have mental scars, you have childhood trauma. And then you find this person whom you think can cure you. Then, you are falling in love with the therapy for your own soul illness, not with a person.

And few lucky ones, find that one person, see his/her true soul, and fall in love. Few lucky ones, fall in love, with a person.

[Written by Henry Manampiring]

World War Z

This movie is one of my  favorite film of the year, so far. This film based on a novel from Max Brooks titled “World war Z“. Though the only thing that similar between both is the title, but to me both are equally entertaining.

I haven’t finish reading the book. But later after I finished it, I’ll write about it here.